3 hari terakhir, Jakarta diguyur hujan lebat yang menyebabkan beberapa daerah mengalami kebanjiran. Tidak terkecuali wilayah Bendungan Hilir yang sejak dahulu kala memang langganan banjir. Jalan Benhil Raya yang kalau jam berangkat dan pulang kantor selalu dipenuhi kendaraan yang menghindari jalur three-in-one tidak bisa dilewati kendaraan karena banjir yang cukup tinggi. Saya masih ingat satu tahun lalu ketika pulang dari acara start-up di DBS Tower dan mendapati jalan ke kos-kosan sudah digenangi air setinggi 60-70 cm.
Tahun ini pun tidak berbeda, hujan deras yang mengguyur Jakarta terus menerus akhirnya menyebabkan jalanan di daerah Benhil kembali tenggelam. Tetapi dibandingkan tahun lalu, tahun ini ada beberapa hal yang berbeda.
1. Intensitas hujan yang menyebabkan banjir. Tahun lalu (dan saya yakin tahun-tahun sebelumnya) hujan dengan intensitas cukup deras saja sudah cukup untuk membuat genangan air di depan RSAL Mintoharjo dan membuat aliran listrik di sebagian wilayah Benhil padam. Tahun ini banjir hanya muncul ketika hujan deras terus menerus datang selama lebih dari 2 hari.
2. Kecepatan surutnya banjir. Saya masih ingat tahun lalu ketika banjir sedang tinggi-tingginya, listrik dipadamkan selama kurang lebih 2 hari karena banjir belum juga surut. Setelah listrik menyala pun, air masih menggenang cukup tinggi dan baru benar-benar hilang setelah kurang lebih satu minggu. Itupun kalau tidak diguyur lagi dengan hujan. Tahun ini tingkat banjirnya kurang lebih sama dengan tahun kemarin, tetapi airnya surut hanya dalam hitungan jam setelah hujan berhenti.
Apakah ini hasil dari kerja pemerintah Provinsi DKI Jakarta? Ataukah memang kondisi pasang laut dan banjir kiriman tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? Saya sendiri tidak bisa menarik kesimpulan sebelum ada data yang mendukung, tetapi setidaknya ini sesuatu yang bisa kita syukuri. Mudah-mudahan ke depannya kondisinya terus membaik hingga Jakarta dapat jadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar